Rejeksi makna dalam kepala

Pagi hari 1 mei saat berangkat kerja, kulihat poster bergambar yang dicat semprot pada sebuah tembok fondasi jembatan layang di dekat rumahku, bertuliskan : ’saatnya buruh dan petani bersatu, lawan imperialisme’. Aku terdiam sejenak, tak kuhiraukan walau hari itu aku mungkin akan terlambat masuk kerja, aku tertawa namun menyisakan kesedihan yang cukup mendalam.
1 Mei 2010, suasana di tempat kerjaku nampak berjalan seperti biasanya. Sepulang kerja aku sempatkan baca surat kabar, katanya untuk Hari Buruh Internasional kali ini berbagai pihak sepakat untuk memperingatinya dengan cara damai. Bahkan dalam satu harian aku baca, salah satu serikat pekerja jawa barat akan memperingatinya dengan suka cita, ya.. panggung seni, hiburan, dan khitanan masal.
Hanya sampai disitu, lagi-lagi aku terjebak dalam urusan kerja, kuliah, dan tidur. Keseharianku makin tak bermakna, waktu hidupku memang telah tercerabut dari tanganku sendiri. Hingga pagi itu berulang, 15 Mei 2010 aku kembali terhenti di hadapan tembok itu, kulihat cat poster itu kian memudar, disamping terdapat bata dan pasir yang menutupi hampir sebagian permukaannya, menandai tak ada seorangpun warga sekitar yang menghargai karya seni yang dibuat entah oleh siapa itu, apalagi menghargai makna yang tersirat di dalamnya. Sama halnya ketika seorang ibu renta penjual gorengan yang seharian berkeliling menjajakan dagangannya yang ia pinggul dan menjadikan jurnal ilmiah, brosur-brosur kampanye mahasiswa, selebaran statemen pengunjuk rasa, dan buletin gerakan sebagai bungkus goreng pisang dan bala-bala.

Sepulang kerja sore itu Bandung tampak mendung, hujan yang cukup deras tak membuatku risau untuk segera pulang menemui malaikat kecilku yang 2 hari lagi genap menginjak usia 2 tahun. Ya, walau hidupku kian tercerabut dari tanganku sendiri, aku tetap berbangga hati saat melihat setiap senyum dan tawa menghiasi wajah istri dan anak ku. Aku nyaman, aku bangga atas kemampuanku dan istriku menghidupi anak kami yang masih kecil itu dengan serba berkecukupan. Tapi tiba-tiba di sebuah perempatan jalan ketika motorku terhenti lampu merah, kulihat seorang gadis kecil seumuran anak ku tertidur pulas di tengah trotoar jalan, seorang paruh baya (mungkin ibunya) lantas menyelimutinya dengan selembar samping. Wajah anak itu begitu kusut dengan keringat campur kotoran debu yang menempel di wajahnya, bajunya sudah tak layak pakai, kakinya begitu hitam, karena mungkin uang yang mereka punyai terlalu sayang untuk sekedar dibelikan sandal. Aku mungkin jadi tak seharu ini jika anak itu sudah cukup dewasa, tapi nampaknya anak kecil itu terlalu kecil untuk hidup menemani orang tua mereka di jalanan. Di usia yang begitu kecil, saat anakku bermain sepeda, saat itu pula anak kecil itu mungkin hanya bisa bermimpi untuk memilikinya.
Kenyataan ini seperti tegas menampar mukaku, aku malu. Tak ada yang bisa kulakukan saat ini selain hanya berempati dan memberikan semua uang dalam saku celanaku yang jumlahnya mungkin sangat kecil bagi kelangsungan hidup mereka.
Hari itu hujan, sore semakin redup, lingkungan tempat tinggalku benar-benar kian temaram. Banyak hal yang aku pahami sedari dulu tentang masalah kesenjangan dan ironisitas sosial lainnya, tapi saat itu perasaanku benar-benar lain, aku benar-benar berada dalam lingkaran setan kesenjangan yang sangat aku benci itu, aku ada di tengahnya, aku pelakunya!

Sepulang ke rumah aku lantas memeluk anakku erat-erat, kuberi tahu satu hal padanya: Ayahmu ini adalah orang jahat yang sangat menyayangi kamu. Maka demi kenyamanan yang telah kami berikan padamu, demi kenyaman tidur dengan balutan selimut yang hangat, jangan pernah memalingkan muka dari mereka seusiamu yang tidur dalam genagan air mata kepedihan di luar sana. Jangan salahkan orang miskin yang hanya terus diam, tak pernah peduli tehadap berbagai kampanye perubahan yang justru bertujuan meningkatkan taraf hidup mereka sendiri. Biarlah, biarlah kau manfaatkan usiamu yang dini ini untuk dapat terus tidur dengan lelap, karena di usia dewasa nanti saat kau berhadapan dengan realita dunia yang begitu kelam, kau tak akan pernah dapat tidur dengan tenang, seperti ayahmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s